Presiden FIFA, Gianni Infantino, secara resmi membatalkan proyek kontroversial penjualan sebagian hak komersial Piala Dunia. Pria berkebangsaan Swiss-Italia berusia 56 tahun tersebut terpaksa melangkah mundur usai memicu gelombang penolakan masif dari berbagai benua.
Induk organisasi sepak bola dunia itu semula berencana mendirikan FIFA Forward Enterprise senilai 20 miliar dolar AS atau setara Rp360 triliun. Laporan finansial menyebutkan bahwa lebih dari 20 persen saham proyek tersebut hendak dilepas ke investor swasta demi menggalang dana segar.
Gelombang Penolakan dan Ancaman Boikot
“Setelah mendengarkan dengan saksama seluruh pandangan yang ada, menjadi jelas bahwa proyek ini telah menciptakan perpecahan, terlepas dari tingkat dukungan yang ada, tidak lagi sesuai dengan tujuan awal yang ditetapkan,” jelas Infantino melalui akun media sosial X.
“Tujuan kami selalu dan akan selalu menjadi menyatukan serta meningkatkan sepak bola. Oleh karena itu, proposal ini tidak akan dilanjutkan,” katanya menegaskan.
Penolakan paling keras datang dari UEFA yang mengancam bakal memboikot seluruh kompetisi resmi jika komersialisasi tersebut tetap memaksakan diri. Langkah tegas konfederasi Eropa itu lantas memperoleh dukungan penuh dari AFC, CONCACAF, hingga CONMEBOL yang menentang komersialisasi berlebihan.
Baca Juga: Ranking FIFA Piala Dunia 2026: Denis Undav Kalahkan Lionel Messi dan Kylian Mbappe
Gejolak hebat juga mengguncang internal induk organisasi setelah penasihat senior FIFA, Carlos Cordeiro, memilih mundur dari jabatannya.
“Rencana ini merupakan kesepakatan yang buruk bagi masa depan sepak bola,” tegas Cordeiro mengecam kebijakan tersebut.
Keretakan Internal dan Komitmen Rekonsiliasi
Kritik tajam turut dilayangkan oleh Kepala Operasional FIFA, Kevin Lamour, yang menilai kebijakan tersebut disusun secara sepihak.
“Rencana penjualan saham ini adalah proyek satu orang. Infantino telah menipu staf FIFA terkait proses penyusunan rencana tersebut,” ungkap Lamour membongkar kejanggalan prosesnya.
Kegagalan mengeksekusi kesepakatan bernilai triliunan rupiah ini menjadi pukulan telak bagi agenda perluasan pendapatan yang diusung Infantino. Selanjutnya, sang pemimpin kini dihadapkan pada tugas berat untuk memulihkan kepercayaan para pemangku kepentingan sepak bola global.
“Tujuan saya adalah membawa seluruh pihak yang berkepentingan kembali bersama dalam semangat kepentingan bersama, dengan tujuan terus mengembangkan sepak bola di seluruh dunia, terutama di negara-negara yang paling membutuhkan dukungan kami,” tuturnya berusaha meredam ketegangan antarlembaga.
Pembatalan ini memaksa jajaran eksekutif untuk mencari alternatif pendanaan lain demi mendanai program pengembangan di negara berkembang. Kendati demikian, publik menilai bahwa transparansi dan persetujuan bersama harus tetap menjadi prioritas utama organisasi.
Keputusan dramatis ini sekaligus membuktikan bahwa integritas serta tradisi olahraga masih sanggup menahan gempuran kapitalisasi industri. Komunitas sepak bola internasional kini menantikan langkah konkret Infantino dalam memperbaiki keretakan hubungan antar-konfederasi.


