Bakti Olahraga Djarum Foundation dan MilkLife bersama PB Perpani sukses menggelar MilkLife Archery Challenge Kejurnas Junior 2026 di Kudus. Sebanyak 906 pemanah muda dari 29 provinsi unjuk gigi dalam ajang pembinaan paling bergengsi ini.
Kejuaraan nasional yang berlangsung di Supersoccer Arena tersebut menjadi panggung regenerasi atlet panahan Indonesia dari berbagai penjuru daerah. Penyelenggara menyajikan arena berstandar internasional demi memberikan pengalaman bertanding kelas dunia bagi para pemanah belia.
“Tak hanya dari jumlah yang meningkat, atmosfer kompetisi pada kejurnas tahun ini menjadi sangat kompetitif sehingga diharapkan dapat menjadi salah satu barometer penting dalam peta pembinaan panahan nasional,” tulis Ketua Panitia Penyelenggara MilkLife Archery Challenge Kejurnas Junior 2026, Vera Eka Wardani, seperti rilis yang diterima SportsNesia, Minggu (26/7).
“Didukung dengan venue yang berstandar internasional sehingga memberikan atlet junior pengalaman menghadapi kompetisi kelas dunia sejak dini. MilkLife Archery Challenge Kejurnas Junior ini diharapkan dapat melahirkan generasi atlet panahan Indonesia yang unggul, tangguh dan siap bersaing di panggung dunia,” kata Vera melanjutkan.
Peningkatan jumlah peserta dari edisi sebelumnya terbukti mencerminkan gairah olahraga panahan yang semakin tumbuh di kalangan generasi muda. Penyelenggara merancang kompetisi berjenjang ini secara konsisten mulai dari tingkat pelajar Sekolah Dasar hingga level remaja.
“Dengan adanya MilkLife Soccer Challenge untuk level pelajar SD dan MI serta Kejurnas Junior, kami berupaya membangun fondasi pembinaan panahan berjenjang yang diharapkan dapat menemukan bibit-bibit berkualitas, sehingga cabor ini dapat berbicara banyak di level internasional. Semoga kita dapat melahirkan srikandi-srikandi baru seperti era Tiga Srikandi yang pernah meraih medali perak di Olimpiade Seoul, 38 tahun lalu,” ujar Vera.
Baca Juga: Dominasi Sekolah Juara di MilkLife Athletics Challenge Seri 1 2026
Kejurnas Junior 2026 menghadirkan persaingan ketat pada tiga divisi utama yakni Nasional, Recurve, serta Compound. Seluruh peserta harus melewati fase kualifikasi sebelum bertarung sengit dalam sistem gugur hingga babak final.
Sistem set point menjadi penilaian utama pada divisi Nasional dan Recurve untuk menguji ketepatan bidikan para atlet. Sementara itu, divisi Compound menerapkan penilaian akumulasi skor tertinggi dalam lima seri pertandingan.
Pembinaan usia dini melalui ajang ini membakar semangat para peserta untuk mencetak rekor baru di panggung nasional. Kota Kudus yang terkenal sebagai pusat pembinaan olahraga kini menjadi kawah candradimuka bagi para atlet muda panahan.
Kehadiran fasilitas modern di venue kejuaraan sangat membantu para pemanah melatih ketahanan fisik serta adaptasi terhadap cuaca ekstrem. Ajang tahunan ini diproyeksikan terus konsisten bergulir demi menjaga mata rantai regenerasi atlet nasional.
Hasil dari kejuaraan nasional di Jawa Tengah ini diharapkan mampu menyuplai talenta muda berbakat menuju Pelatnas. Indonesia kini bersiap menyambut lahirnya deretan srikandi dan ksatria baru yang siap membela Sang Saka Merah Putih.


